KABARKAN.ID I Trenggalek – Kasus arisan dan lelang bermasalah mencuat di Kabupaten Trenggalek. Puluhan korban mendatangi Polres Trenggalek untuk melaporkan dugaan penggelapan dana yang dilakukan owner sekaligus admin arisan berinisial VN. Kerugian para korban ditaksir menembus angka Rp1,5 miliar.
Laporan tersebut disampaikan korban dengan didampingi kuasa hukum mereka, Bambang Purwanto, Jumat (9/1/2026). Proses pelaporan berlangsung sejak pukul 09.55 WIB hingga siang hari di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).
“Kerugian dari klien kami yang memberikan kuasa tidak kurang dari Rp1,5 miliar. Korban berasal dari beberapa wilayah di Trenggalek, di antaranya GL warga Tamanan dan MM warga Desa Pule,” kata Bambang.
Ia menerangkan, arisan yang dijalankan VN menggunakan sistem get menurun dengan nominal bervariasi. Dalam satu get senilai Rp70 juta terdapat 13 peserta, namun besaran setoran tiap peserta tidak sama.
“Owner mengambil get pertama dan tidak membayar arisan. Artinya, keuntungan sudah didapat sejak awal. Sementara peserta lainnya tetap diwajibkan membayar,” jelas Bambang.
Salah satu korban yang dilaporkan hari ini berada pada urutan ke-9 dan diwajibkan membayar Rp4,8 juta setiap periode. Meski telah menyelesaikan kewajibannya, dana arisan yang seharusnya diterima saat jatuh tempo justru tidak dicairkan.
“Lebih parahnya lagi, saat korban menagih haknya, nomornya justru diblokir oleh terlapor,” ungkapnya.
Menurut Bambang, permasalahan mulai dirasakan sejak Desember 2025. Sejak saat itu, owner arisan dinilai menghindar dan sulit dihubungi untuk dimintai pertanggungjawaban.
Dari sekitar 10 korban yang memberikan kuasa hukum, sebagian telah memasuki masa jatuh tempo dengan nilai kerugian mencapai sekitar Rp1 miliar. Selain itu, terdapat laporan lain yang lebih dulu masuk dengan kerugian sekitar Rp400 juta.
“Kasus yang dilaporkan tidak hanya arisan get, tetapi juga lelang. Karena bentuk kasusnya berbeda, laporan polisi yang dibuat juga lebih dari satu,” terangnya.
Ia menambahkan, arisan dan lelang tersebut sebelumnya berjalan lancar dan telah berlangsung cukup lama. Namun belakangan mulai menunjukkan masalah serius.
“Kami melaporkan kasus ini agar kerugian masyarakat tidak semakin meluas. Dugaan kami, jumlah korban masih akan bertambah,” terang Bambang.* (Had)













