KABARKAN.ID I Surabaya – Nama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, absen dari daftar kepala daerah favorit versi generasi muda. Hasil survei nasional ini memantik kritik tajam dari DPRD Jatim yang menilai ada persoalan serius dalam relasi pemerintah dengan anak muda.
Hasil survei nasional yang dirilis Muda Bicara ID menjadi sorotan di Jawa Timur. Dalam riset yang mengukur persepsi generasi muda terhadap kinerja kepala daerah, nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tak masuk dalam sepuluh besar gubernur dengan apresiasi tertinggi dari kalangan muda.
Temuan ini langsung menuai respons dari Anggota DPRD Jatim, Ibnu Alfandy Yusuf. Ia menilai absennya Khofifah bukan sekadar persoalan popularitas, melainkan indikasi adanya jarak antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan generasi muda.
“Ini bukan soal dikenal atau tidak, tapi soal relevansi. Ketika anak muda tidak merasakan dampak kebijakan, wajar jika apresiasi tidak muncul,” ujar Ibnu.
Menurutnya, survei tersebut menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengevaluasi pendekatan yang selama ini dijalankan. Ia menyebut narasi keberhasilan yang kerap disampaikan belum sepenuhnya selaras dengan realitas di lapangan.
Ibnu mencontohkan rendahnya partisipasi pemuda dalam ekonomi mandiri di Jawa Timur. Dari target 0,415, capaian yang terealisasi hanya 0,1361. Selisih yang cukup jauh ini menunjukkan bahwa ekosistem kewirausahaan bagi anak muda belum berjalan optimal.
“Transformasi dari job seeker menjadi job creator belum terjadi secara signifikan. Ini menandakan ada yang perlu dibenahi dalam strategi pemerintah,” tegas politisi muda PKB tersebut.
Lebih jauh, ia juga menyoroti sejumlah persoalan lain yang dinilai masih membayangi generasi muda, mulai dari terbatasnya lapangan kerja berkualitas, akses pendidikan yang belum merata, hingga minimnya ruang partisipasi dalam proses pengambilan kebijakan.
Ibnu menilai pendekatan pemerintah selama ini masih cenderung simbolik dan seremonial. Padahal, karakter generasi muda saat ini lebih kritis dan menuntut kebijakan yang konkret serta berdampak langsung.
“Anak muda sekarang tidak mudah percaya pada klaim. Mereka melihat dan merasakan sendiri. Kalau tidak ada perubahan, kepercayaan itu akan terus menjauh,” katanya.
Sementara itu, Founder Muda Bicara ID, Moch Edward Trias Pahlevi, menjelaskan bahwa survei ini tidak hanya mengukur kepuasan terhadap kinerja kepala daerah, tetapi juga menggali perspektif generasi muda terhadap kebijakan publik secara luas.
Riset yang dilakukan sepanjang 1–31 Maret 2026 itu melibatkan 800 responden di 38 provinsi. Selain aspek pembangunan, survei juga menilai sejauh mana kebijakan pemerintah menyentuh isu kesejahteraan psikologis dan peluang masa depan anak muda.
“Indikator penilaian generasi muda kini semakin kompleks. Bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga masa depan dan kualitas hidup mereka,” ujar Edward.
Hasil survei ini pun menjadi catatan penting bagi Pemprov Jatim: membangun kedekatan dengan generasi muda tak cukup dengan pencitraan, tetapi membutuhkan kebijakan yang benar-benar dirasakan dampaknya. (Had)













