KABARKAN.ID I Gresik – Masalah sampah di Gresik tak lagi sekadar urusan bau dan tumpukan di TPA. Kini, ia berubah menjadi peluang energi. DPRD Gresik memastikan dukungan penuh terhadap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) regional Surabaya Raya—sebuah langkah yang digadang jadi titik balik krisis sampah.
Isu sampah memang bukan cerita baru. Namun skalanya kini makin mengkhawatirkan. Pertumbuhan limbah rumah tangga, pasar, hingga industri terus melesat, sementara kapasitas pengelolaan masih tertatih.
Ketua DPRD Gresik, M Syahrul Munir, menegaskan persoalan ini sudah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Bahkan, arahan langsung datang dari Presiden Prabowo Subianto dalam forum nasional para pimpinan DPRD.
“Permasalahan pengelolaan sampah menjadi isu nasional. Presiden sudah memberi arahan khusus, dan kami di daerah tentu harus bergerak seirama,” ujarnya, Kamis (30/04/2026).
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan situasi yang tidak main-main. Pada 2026, timbulan sampah nasional mencapai 51,8 juta ton. Ironisnya, hanya sekitar 26 persen yang berhasil dikelola. Sisanya? Berakhir di TPA dengan sistem terbuka, dibakar, atau bahkan mencemari lingkungan.
Komposisinya pun didominasi sisa makanan (38,64 persen) dan plastik (19,65 persen)—dua jenis yang kerap menjadi penyumbang utama pencemaran.
Di Gresik sendiri, upaya pengelolaan sebenarnya sudah berjalan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mampu mengolah sekitar 18 ton sampah per hari. Namun angka itu jelas belum cukup untuk mengimbangi laju produksi sampah yang terus meningkat.
Di sinilah proyek PSEL regional menjadi harapan baru. Lewat skema aglomerasi, sampah dari Gresik nantinya akan dikirim ke TPA Benowo, Surabaya, untuk diolah menjadi energi listrik.
Proyek ini ditargetkan mulai terealisasi pada 2028.
“Kami sangat mendukung. Bahkan surat dukungan sudah kami tandatangani. Ini bukan sekadar program, tapi solusi jangka panjang,” tegas Syahrul.
Jika berjalan sesuai rencana, langkah ini bukan hanya mengurangi beban lingkungan, tapi juga mengubah paradigma: dari sampah sebagai masalah, menjadi sumber energi masa depan.(Kum)













