KABARKAN.ID I Gresik – Akibat cuaca buruk membuat terhentinya arus kapal penyeberangan menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, memicu krisis energi dalam sepekan terakhir. Kelangkaan BBM jenis Pertalite, Bio Solar, serta LPG 3 kilogram membuat harga melonjak tajam dan aktivitas warga nyaris lumpuh.
Terhentinya operasional kapal logistik memperparah kondisi di pulau terluar Gresik tersebut. Energi yang seharusnya menjadi penopang utama kehidupan warga justru sulit didapat, memaksa masyarakat merogoh kocek lebih dalam atau bahkan berhenti beraktivitas.
Muhammad Faiz, warga Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura, mengungkapkan harga LPG 3 kilogram sempat menembus Rp55 ribu sebelum akhirnya benar-benar habis di pasaran.
“Dua hari lalu LPG 3 kilo sampai Rp55 ribu, sekarang sudah tidak ada sama sekali. LPG 12 kilo juga kosong, terakhir harganya Rp300 ribu,” ujarnya, Rabu, 28 Januari 2026.
Dampak krisis energi ini tak hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga meluas ke sektor ekonomi, pendidikan, dan aktivitas sosial. Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Tambak, Guntur, menyebut hampir seluruh sendi kehidupan warga terdampak.
“Pasar sepi, orang mau kerja terhambat, siswa banyak yang tidak masuk sekolah. Sekitar 40 persen aktivitas lumpuh karena bensin habis dan kapal tidak beroperasi,” jelas Faiz.
Ia menilai krisis ini bukan kejadian baru dan seharusnya dapat diantisipasi lebih awal oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, mengingat cuaca buruk di wilayah perairan Bawean merupakan siklus tahunan.
“Ini gejala musiman. Kalau serius, seharusnya sejak September atau Oktober sudah disiapkan kapal besar khusus untuk logistik Bawean agar tidak terjadi kelangkaan sembako, BBM, dan LPG,” tegasnya.
Hal senada disampaikan pengusaha Bawean, H. Abdurrahman yang menegaskan bahwa ketersediaan BBM dan LPG menjadi kunci utama perputaran ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat Bawean.
“Kalau bensin dan LPG tidak ada, ekonomi dan pangan tidak bisa bergerak. LPG itu paling krusial, karena orang tidak bisa masak. Itu yang bikin warga panik,” ungkapnya.
Menurutnya, kelangkaan LPG di wilayah Sangkapura sudah terjadi sejak lebih dari sepekan lalu dan memburuk dalam tiga hari terakhir. Padahal, ia menyebut masih ada celah waktu sekitar dua hari bagi kapal untuk berlayar di tengah cuaca buruk.
“Celahnya ada, tapi kapal barang tidak diberangkatkan. Akhirnya pasokan vital gagal masuk,” tambah Rahman.
Masyarakat Bawean berharap Pemkab Gresik segera mengambil langkah darurat dengan menyiapkan armada pengangkut BBM dan LPG agar krisis energi tidak terus berulang dan kehidupan warga di pulau tersebut dapat kembali normal.*(Kum)













