KABARKAN.ID I Gresik – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik menunjukkan performa gemilang dalam menarik investasi nasional. Hingga 2025, KEK Gresik berhasil menyerap investasi sebesar Rp106,3 triliun, atau sekitar 30 persen dari total realisasi investasi KEK di seluruh Indonesia yang mencapai Rp336 triliun.
Data tersebut menegaskan posisi KEK Gresik sebagai salah satu kawasan industri strategis yang mendorong hilirisasi industri dan memperkuat rantai pasok nasional.
Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, Direktur Hubungan Eksternal dan Kawasan Khusus KEK Gresik, menyatakan bahwa realisasi ini terjadi selama periode 2021–2025. Sebelumnya, kawasan yang kini dikenal sebagai KEK Gresik, yaitu Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), telah mencatat investasi Rp5,2 triliun.
“Secara akumulatif, total investasi sebelum dan sesudah penetapan KEK mencapai Rp111,5 triliun,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
KEK Gresik juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gresik meningkat dari 77,30 pada 2021 menjadi 79,69 pada 2025. Tingkat pengangguran menurun dari 8,00 persen menjadi 5,47 persen, seiring bertambahnya lapangan kerja dari industri yang beroperasi di kawasan tersebut.
Selain investasi, KEK Gresik aktif menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mencakup pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, lingkungan, serta pembangunan infrastruktur sosial.
“Program CSR kami dirancang untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” jelas Roro.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menambahkan bahwa indikator makro ekonomi Indonesia tetap solid.
“Inflasi terkendali, Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di atas level 53, dan indeks keyakinan konsumen serta daya beli masyarakat menunjukkan tren positif,” terangnya.
Rizal Edwin Manansang, Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, menyebutkan bahwa sepanjang 2025, 25 KEK di Indonesia merealisasikan investasi sebesar Rp82,6 triliun atau 98 persen dari target, dan berhasil menyerap 88.541 tenaga kerja.
“Hal ini menunjukkan KEK semakin efektif sebagai instrumen mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Kajian Prospera bekerja sama dengan LPEM Universitas Indonesia menemukan bahwa wilayah dengan KEK menarik investasi 77 persen lebih tinggi dibanding wilayah non-KEK. Penyerapan tenaga kerja 52 persen lebih besar, bahkan untuk KEK industri, investasi asing langsung (FDI) dapat mencapai 179 persen lebih tinggi.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Moh. Edy Mahmud, menegaskan bahwa KEK berkontribusi signifikan terhadap ekonomi daerah melalui peningkatan investasi, ekspor, dan lapangan kerja. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada 2029, dengan KEK sebagai salah satu motor penggerak utama.
Melalui kolaborasi pemerintah, industri, dan media, Dewan Nasional KEK berharap publik semakin memahami peran strategis KEK dalam mendorong investasi, ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi nasional.*(Kum)













