KABARKAN.ID I Surabaya – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tak hanya menjadi seremoni di Jawa Timur. Momentum ini justru dimanfaatkan Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim untuk membuka sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar dunia pendidikan—mulai dari ketimpangan kualitas sekolah hingga kompetensi guru yang belum merata.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa lagi dibebankan pada pemerintah saja.
“Kalau hanya pemerintah, tidak akan cukup. Harus ada kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, sinergi tiga pilar tersebut menjadi kunci untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Data Dindik Jatim mencatat, saat ini terdapat 4.688 satuan pendidikan tingkat SMA, SMK, dan SLB di seluruh Jawa Timur. Jumlah besar ini, di satu sisi menjadi kekuatan, namun di sisi lain menghadirkan tantangan serius: pemerataan kualitas.
Aries tak menampik, masih ada kesenjangan mutu antar sekolah, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah.
“Jumlahnya besar, tapi pemerataan kualitas ini yang masih jadi tantangan utama,” tegasnya.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan anggaran pemerintah yang harus dibagi ke berbagai sektor lain seperti infrastruktur dan kesehatan.
Selain soal pemerataan, kualitas tenaga pengajar juga menjadi perhatian. Aries mengungkapkan masih banyak guru yang belum siap menghadapi perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah kompetensi guru yang belum merata. Padahal untuk meningkatkan itu butuh biaya besar,” katanya.
Padahal, di era digital, kemampuan guru dalam mengadopsi teknologi pembelajaran menjadi krusial agar proses belajar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dindik Jatim mulai menggenjot berbagai program peningkatan kapasitas guru. Salah satunya melalui pelatihan rutin yang dilakukan secara masif oleh bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).
Tak hanya itu, pelatihan berbasis kompetensi hingga sertifikasi juga difasilitasi bagi guru dan siswa melalui skema KKNI-LSK di bawah Ditjen Vokasi.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Aries menekankan, keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari banyaknya siswa berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, indikator utama justru terletak pada pemerataan kualitas di seluruh daerah.
“Bukan hanya satu dua yang hebat. Yang penting itu semua daerah punya potensi yang berkembang,” tegasnya.
Dengan berbagai capaian yang sudah diraih, Jawa Timur masih menargetkan diri sebagai barometer pendidikan nasional. Namun, Aries mengingatkan bahwa target tersebut hanya bisa tercapai jika kesenjangan kualitas mampu ditekan.
“Potensi kita besar. Tinggal bagaimana bisa merata di semua daerah,” terangnya.(Had)












