KABARKAN.ID I Tulungagung – Hamparan sawah di Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, menyuguhkan pemandangan tak biasa. Kawanan burung migran asal belahan bumi utara, seperti Rusia dan Cina, tampak singgah dan mencari makan di kawasan tersebut.
Fenomena ini dimanfaatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Kediri bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung untuk menggelar kegiatan Bird Walk atau pengamatan burung migrasi di alam terbuka.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengamati langsung perilaku burung menggunakan binokular. Mereka juga diminta mencatat ciri khas, kebiasaan alami, hingga membuat ilustrasi burung yang diamati sebagai sarana pembelajaran.
Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, menjelaskan bahwa kegiatan Tulungagung Bird Walk bertujuan mengenalkan keanekaragaman burung migrasi kepada masyarakat, khususnya mahasiswa.
“Kami ingin berbagi keseruan mengamati burung secara langsung di habitatnya. Kebetulan saat ini masih musim migrasi,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Pada pengamatan kali ini, tercatat tiga jenis burung migrasi yang berhasil diidentifikasi, yakni trinil pantai (Actitis hypoleucos, trinil semak (Tringa glareola) dan kicuit kerbau (Motacilla tschutschensis). Ketiga jenis burung tersebut diketahui berasal dari wilayah utara yang sedang mengalami musim dingin.
“Burung-burung ini datang dari Cina dan Rusia untuk mencari makanan di daerah tropis,” jelas David.
Ia menambahkan, musim migrasi burung biasanya berlangsung mulai Oktober hingga Maret. Setelah musim dingin berakhir, burung-burung tersebut akan kembali ke habitat asalnya untuk berkembang biak.
Selama dua tahun terakhir, BKSDA mencatat sedikitnya tujuh jenis burung migrasi singgah di Tulungagung, di antaranya cerek kernyut, cerek kalung kecil, terik asia, dan layang-layang asia. Khusus burung terik asia, populasinya tergolong sangat besar.
“Kami pernah mendata satu petak sawah di Tulungagung dihuni sekitar 5.000 ekor burung terik asia,” ungkapnya.
Menurut David, apabila populasi burung terik asia terus konsisten dalam beberapa tahun ke depan, Tulungagung berpotensi diusulkan sebagai jalur terbang migrasi burung di Pulau Jawa.
Sementara itu, Ketua Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung, Fazal Marzuki, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyebut pengamatan burung migrasi menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa.
“Banyak teman-teman tertarik karena bisa belajar langsung mengenal burung migrasi di alam,” katanya.
Fazal berharap kegiatan Bird Walk dapat dijadikan agenda rutin tahunan sebagai sarana edukasi dan peningkatan kepedulian terhadap konservasi satwa liar.
“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan karena memberi pengalaman dan pengetahuan baru bagi anggota,” pungkasnya.*(Had)













