KABARKAN.ID I Surabaya – Perjalanan panjang Sanggar Daun bukan sekadar cerita tentang seni lukis anak. Selama 22 tahun, ruang kreatif ini tumbuh dari gerakan kecil berbasis lingkungan hingga menjadi salah satu ekosistem seni anak yang menorehkan prestasi internasional.
Momentum itu kini dirayakan lewat pameran bertajuk “Let’s IMAGINE the Future Together” yang digelar di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur pada 25–30 April 2026. Pameran ini menampilkan karya sekaligus arsip perjalanan Sanggar Daun sejak berdiri pada 2004.
Pendiri Sanggar Daun, Arik S. Wartono, menyebut pameran ini bukan hanya perayaan usia, tetapi refleksi atas proses panjang yang penuh dinamika.
“Selama 22 tahun kami mendampingi anak-anak untuk berkarya sesuai bakat masing-masing. Ini juga menjadi bentuk apresiasi atas berbagai penghargaan yang telah diraih, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya, Minggu, 26 April 2026.
Sanggar Daun itu akronim dari Duta Alam Untuk LingkungaN, tidak langsung bergerak di bidang seni rupa. Pada awal berdiri, fokus pada advokasi dan pendidikan lingkungan bagi anak-anak hingga 2007. Dari sana, pendekatan kreatif mulai berkembang hingga akhirnya membentuk ekosistem seni anak yang konsisten hingga hari ini.
“Konsistensi inilah yang menjadi kunci. Bertahan selama dua dekade bukan sekadar soal waktu, melainkan menjaga kualitas proses kreatif yang terus berkembang. Dalam perjalanannya, Sanggar Daun telah mencetak berbagai pencapaian, termasuk meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia sebanyak lima kali,” ujar Arik.
Pria yang juga pelukis ini menambahkan, sejak 2004 hingga 2013, puluhan anak didik berhasil menjuarai ajang internasional seperti Youth for Human Rights dan memamerkan karya di berbagai institusi dunia, mulai dari Van Gogh Museum hingga UNESCO.
Memasuki fase 2014–2018, prestasi semakin menguat. Salah satunya melalui ajang Toyota Dream Car Art Contest di Jepang, di mana karya anak DAUN meraih penghargaan tertinggi.
Tak hanya itu, lembaga-lembaga dunia seperti UNICEF, UNEP hingga Dewan Keamanan PBB turut memberikan apresiasi atas karya dan kontribusi mereka.
“Saat pandemi melanda pada 2019–2022, Sanggar Daun tidak berhenti. Justru, fase ini menjadi titik eksplorasi baru melalui penerbitan buku, instalasi seni, hingga pameran tunggal anak-anak,” kata Arik.
Tradisi pameran tunggal mulai berkembang, bahkan merambah ke panggung internasional seperti Prancis dan Korea Selatan. Momentum ini juga ditandai dengan munculnya banyak seniman anak dengan identitas kuat.
Memasuki 2023–2025, Sanggar DAUN mulai bergerak ke arah interdisipliner. Tidak hanya seni lukis, anak-anak didik mulai mengeksplorasi fotografi, teknologi seperti Arduino, hingga seni inklusif.
“Partisipasi dalam ajang seperti ARTJOG hingga Kids Biennale Indonesia menunjukkan bahwa karya mereka (seniman Sanggar Daun) tidak lagi berada di pinggiran, tetapi sudah menjadi bagian dari percakapan seni yang lebih luas,” ujar pria kelahiran Gresik ini.
Di usia ke-22 tahun, Sanggar DAUN kembali menegaskan arah barunya: membangun imajinasi masa depan melalui seni anak.
Pameran “IMAGINE” menjadi penanda bahwa perjalanan ini belum selesai. Dari ruang kecil berbasis lingkungan, Sanggar Daun kini menjelma menjadi gerakan kreatif yang terus melahirkan generasi seniman muda dengan perspektif global.
Dan seperti tema yang diusung, mereka tidak hanya berkarya untuk hari ini—tetapi juga mengajak publik untuk membayangkan masa depan bersama. (Kum)













