KABARKAN.ID I Mojokerto– Polres Mojokerto Kota menyiapkan empat pos pengamanan untuk menghadapi arus mudik Lebaran 2026. Selain itu, sebanyak 256 personel gabungan diterjunkan untuk memberikan pelayanan dan pengamanan kepada masyarakat selama masa mudik hingga arus balik.
Empat pos tersebut terdiri dari satu pos terpadu di Alun-Alun Kota Mojokerto, satu pos pelayanan di Simpang Sekarputih, serta dua pos pengamanan di Exit Tol Gedeg dan Jembatan Utara.
Kapolres Mojokerto Kota AKBP Herdiawan Arifianto mengatakan, seluruh personel akan disiagakan selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 yang berlangsung mulai 13 hingga 25 Maret 2026.
Hal itu disampaikan saat memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di Lapangan Patih Gajah Mada, Mako Polres Mojokerto Kota, Kamis (12/3/2026) pagi.
“Sebanyak 256 personel gabungan dilibatkan dalam pengamanan arus mudik Lebaran tahun ini,” kata Herdiawan.
Personel tersebut berasal dari berbagai unsur, antara lain TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPBD, Damkar, PMI, hingga Jasa Marga.
Menurut Herdiawan, Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama masa mudik, perayaan Idulfitri, hingga arus balik.
Ia menegaskan, koordinasi lintas sektoral menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan serta kelancaran aktivitas masyarakat selama periode Lebaran.
“Kesiapan personel maupun sarana dan prasarana merupakan wujud komitmen serta sinergitas lintas sektor dalam rangka menyukseskan Operasi Ketupat 2026,” ujarnya.
Dalam operasi tersebut, aparat akan memfokuskan pengamanan di sejumlah objek vital seperti rumah ibadah, pusat perbelanjaan, terminal, tempat wisata, stasiun, hingga akses jalan tol dan jalur ring road.
Selain pengamanan arus mudik, aparat juga akan melakukan pengawasan terhadap stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) serta bahan bakar minyak (BBM).
Polisi juga akan melakukan pemetaan wilayah rawan serta meningkatkan patroli untuk mencegah berbagai potensi gangguan keamanan, seperti kriminalitas konvensional, aksi premanisme, balap liar, hingga perkelahian antar kelompok.
“Mapping kerawanan juga dilakukan untuk mencegah tindak kriminalitas, dengan patroli rutin yang melibatkan pengamanan swakarsa pada jam-jam rawan,” terang Herdiawan.













