KABARKAN.ID I Surabaya – Suasana lima SMK di Malang Raya pekan ini terasa berbeda. Deru mesin praktik, klik kamera, hingga denting peralatan teknik berpadu dalam satu semangat: meningkatkan kompetensi siswa.
Melalui program Mobile Training Unit (MTU), Dinas Pendidikan Jawa Timur kembali menghadirkan pelatihan vokasi intensif yang tahun 2026 ini dipusatkan di Kota Malang dan Kota Batu. Sebanyak 150 siswa SMK dan SMA Double Track mengikuti pelatihan selama enam hari, 2–7 Maret 2026.
Program ini digelar melalui UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK) dengan konsep berbeda dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya MTU menyasar lima daerah sekaligus, kini pelatihan difokuskan dalam satu wilayah agar dampaknya lebih terasa.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan pemusatan ini bertujuan memaksimalkan hasil pelatihan.
“Fokus di satu wilayah kita ingin hasilnya lebih maksimal. Kehadiran UPT PTKK jadi lebih terasa dengan variasi kompetensi yang diberikan,” ujarnya.
Lima Kompetensi, Satu Tujuan yakni Siap Kerja. Selama sepekan, siswa digembleng dalam lima bidang keahlian, Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU), Videografi, Fotografi, Programmable Logic Controller (PLC).
Masing-masing kompetensi diikuti sekitar 30 siswa. Dalam satu kelas, peserta bahkan bisa berasal dari hingga empat sekolah berbeda, menciptakan kolaborasi lintas sekolah yang dinamis.
Pelatihan berlangsung pukul 08.00–16.00 WIB, memadukan teori dan praktik. Peralatan praktik didatangkan langsung melalui unit MTU, dipadukan dengan fasilitas sekolah agar standar industri benar-benar terasa di ruang belajar.
Menurut Aries, MTU bukan sekadar membawa peralatan besar dan instruktur ke sekolah. Setiap pelatihan menerapkan sistem pretest dan post test untuk mengukur capaian siswa secara objektif.
“Kita tidak ingin mengirim peralatan besar beserta instruktur selama seminggu tanpa hasil yang linier. Karena itu ada pretest dan post test untuk mengukur capaian siswa,” tegasnya.
Dengan metode ini, peningkatan kemampuan siswa—baik teori maupun praktik—dapat terdokumentasi jelas.
Sementara itu, Kepala UPT PTKK, Endang Wanarsih, menjelaskan bahwa konsep MTU dirancang untuk memperluas akses pelatihan berbasis praktik.
“Dengan sarana yang dibawa MTU, siswa bisa belajar langsung menggunakan peralatan sesuai standar industri,” ujarnya.
Di kelas Teknik Sepeda Motor, misalnya, instruktur praktisi Widianto membekali siswa dengan materi pengenalan mesin, sistem kelistrikan, rangka, hingga penggunaan alat ukur bengkel modern.
“Targetnya siswa mampu melakukan servis ringan. Materinya selaras dengan yang ada di sekolah, tapi kita perdalam lagi sesuai standar terkini,” jelasnya.
Tak hanya sektor otomotif, bidang kreatif seperti videografi dan fotografi juga mendapat porsi serius. Bahkan ke depan, Dindik Jatim berencana menambahkan kompetensi tata boga, mengingat potensi industri kuliner yang terus tumbuh.
Pelaksanaan MTU kali ini juga dimaknai sebagai bagian dari pengabdian di bulan Ramadan, sebuah bentuk transfer ilmu yang diharapkan memberi dampak jangka panjang.
Melalui program ini, Dinas Pendidikan Jawa Timur ingin lebih dari sekadar melatih. Mereka ingin menumbuhkan motivasi, kreativitas, dan kemandirian siswa, sekaligus memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Karena di balik setiap mesin yang dibongkar, setiap kamera yang dioperasikan, dan setiap panel listrik yang dirakit, tersimpan satu tujuan besar: mempersiapkan siswa bukan hanya lulus sekolah, tetapi siap melangkah ke industri.*(Had)













