KABARKAN.ID I Gresik – Suasana bulan Ramadan yang seharusnya dipenuhi lantunan sahur dan kebersamaan, justru berubah menjadi bentrokan berdarah di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Tradisi patrol sahur yang biasanya menjadi simbol semangat membangunkan warga untuk ibadah, berujung tragedi antar dua kelompok pemuda dari desa berbeda.
Di tengah situasi yang memanas, Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, angkat bicara. Ia mengimbau masyarakat agar tidak larut dalam emosi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian.
Politisi muda tersebut mengaku prihatin insiden itu terjadi di bulan suci. Menurutnya, Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat kualitas ibadah dan keimanan, bukan justru diwarnai aksi kekerasan.
“Atas tragedi di Panceng, mohon masyarakat menahan diri agar proses hukum berjalan,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Situasi sempat memanas setelah dua pemuda asal Desa Campurejo menjadi korban pembacokan. Aparat Satreskrim Polres Gresik bergerak cepat dan berhasil meringkus pelaku bernama Saifuddin alias Dien Maling, warga Desa Banyutengah. Ia ditangkap di wilayah Paciran, Lamongan, Jumat (27/2/2026) malam.
Namun sebelum penangkapan, emosi warga telanjur meluap. Massa sempat mendatangi rumah pelaku di Banyutengah, lalu bergerak ke Tlogosadang di Kecamatan Paciran, wilayah perbatasan Gresik–Lamongan. Karena pelaku tak ditemukan, amarah berubah menjadi aksi pembakaran rumah.
Melihat eskalasi tersebut, Syahrul meminta peran aktif pemerintah desa dan tokoh masyarakat dari Desa Banyutengah maupun Desa Campurejo untuk meredam situasi.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda untuk menjaga kondusivitas wilayah.
“Antar Pemerintah Desa Banyutengah dan Campurejo serta tokoh masyarakat, mohon bisa menenangkan warganya untuk menahan diri masing-masing,” pintanya.
Di tengah bulan yang mestinya menjadi ruang menahan hawa nafsu, ujian justru datang dalam bentuk amarah kolektif. Kini, harapan tertuju pada semua pihak agar Panceng kembali teduh—dan Ramadan tetap menjadi bulan damai, bukan bara konflik.*(Kum)













