KABARKAN.ID I Gresik – Halaman Balai Kota Kediri dipenuhi wajah-wajah yang tak biasa. Bukan demonstrasi, bukan pula antrean bantuan biasa. Di sana, 200 tukang becak berdiri di samping kendaraan baru mereka becak listrik dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Melalui Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyalurkan 200 unit becak listrik bagi para penarik becak di Kota Kediri. Bantuan ini bukan sekadar pergantian alat transportasi, melainkan peralihan dari kerja fisik yang menguras tenaga menuju cara baru mencari nafkah yang lebih ringan dan modern.
Selama puluhan tahun, kayuhan menjadi tumpuan hidup. Panas terik, hujan deras, hingga jalanan menanjak adalah bagian dari keseharian. Kini, dengan motor listrik terpasang di badan becak, tenaga manusia tak lagi menjadi satu-satunya andalan.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyebut bantuan ini sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah.
“Dengan adanya becak listrik ini, Bapak dan Ibu tidak perlu lagi mengayuh seperti sebelumnya. Harapannya, kerja menjadi lebih mudah dan pendapatan bisa meningkat,” ujarnya dalam seremoni penyerahan, Rabu (25/2/2026).
Momentum ini terasa semakin simbolis karena bertepatan dengan satu tahun masa kepemimpinannya di Kota Kediri. Ia berharap, modernisasi transportasi tradisional ini menjadi bagian dari cita-cita besar membangun kota yang Mapan, Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Nyaman.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha GSN, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Firman Dahlan, menegaskan bahwa tujuan utama pengalihan dari becak kayuh ke listrik adalah meringankan beban fisik para pengemudi.
Pertama, produktivitas meningkat. Dengan tenaga yang lebih hemat, tukang becak bisa mengambil lebih banyak penumpang dalam sehari. Kedua, kesejahteraan keluarga terdorong naik seiring peluang pendapatan yang lebih stabil. Ketiga, kontribusi terhadap lingkungan melalui transportasi rendah emisi di tengah kota.
Modernisasi ini menjadi contoh bagaimana kearifan lokal tidak harus hilang ketika teknologi datang. Becak tetap becak ikon transportasi rakyat, namun kini bergerak lebih senyap dan ramah lingkungan.
Acara penyerahan pun dirancang penuh makna. Selain pembagian becak listrik, terdapat santunan anak yatim, tausiyah dari Gus Kautsar dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, hiburan gambus, undian umroh bagi kaum dhuafa dan pekerja informal, hingga pembagian sembako.
Di tengah lantunan doa dan hiburan sederhana, 200 tukang becak itu membawa pulang lebih dari sekadar kendaraan baru. Mereka membawa pulang harapan—bahwa kerja keras mereka kini sedikit lebih ringan, dan masa depan mungkin sedikit lebih terang.*(Had)













