KABARKAN.ID I Surabaya – Surabaya kembali menjadi sorotan dunia literasi. Kota Pahlawan resmi membuka rangkaian Big Bad Wolf Books (BBW) Indonesia 2026 di Convention Center Tunjungan Plaza 3, Lantai 6, Kamis (29/1/2026). Gelaran ini bukan sekadar bazar buku, tapi perayaan satu dekade BBW hadir di Indonesia.
Sejak hari pertama, antrean panjang memadati pintu masuk. Ribuan pengunjung berburu jutaan buku internasional lintas genre dan usia dengan harga miring. Diskon gila-gilaan, program Serba 50K dan 100K, clearance sale, hingga bonus kopi dan cokelat gratis membuat suasana bazar lebih mirip festival daripada sekadar belanja.
Founder BBW, Andrew Yap, menjelaskan pilihan Surabaya sebagai kota pembuka bukan kebetulan. “Selama satu dekade, BBW membawa perubahan di Indonesia—satu buku dalam satu waktu. Surabaya menjadi kota pembuka yang sangat bermakna karena semangat membaca dan keterlibatan komunitasnya yang luar biasa,” ujarnya.
Country Director BBW Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menambahkan bahwa momen ini menandai titik loncatan baru. Puluhan juta buku telah sampai ke rumah, sekolah, dan komunitas.
“Di Surabaya, kami merayakan membaca sebagai pengalaman hidup yang lebih semarak. Komitmen ini akan berlanjut di 14 kota sepanjang 2026,” katanya.
Antusiasme masyarakat juga mendapat pengakuan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai. Menurutnya, antrean panjang di hari pertama menjadi sinyal kuatnya minat baca masyarakat. Ia pun menilai bazar seperti BBW penting di tengah harga buku yang kian tinggi.
“Dengan bazar ini, harga buku lebih kompetitif, bahkan ada yang Rp10 ribu atau Rp19 ribu. Ini bisa menarik masyarakat untuk kembali membaca, bukan hanya scroll media sosial,” jelas Aries.
BBW Surabaya 2026 akan berlangsung hingga 8 Februari. Selama sepuluh hari ke depan, Kota Pahlawan bukan hanya menjadi pusat belanja buku murah, tetapi juga panggung perayaan membaca—sebuah pesta literasi yang menandai sepuluh tahun BBW menumbuhkan budaya baca di Indonesia.
Kalau mau, saya bisa buat versi lebih “menggugah” dan viral, yang terasa seperti cerita pengalaman pengunjung di lapangan, bukan sekadar berita formal. Itu akan bikin orang lebih penasaran untuk datang ke bazar.*(Nov)













