KABARKAN.ID I Surabaya – Siang itu, suasana di Taman Apsari, seberang Gedung Negara Grahadi, mendadak berbeda. Puluhan pengguna jalan berhenti. Sebagian mendekat. Perhatian mereka tertuju pada dua orang dewasa yang mengenakan seragam merah putih khas siswa sekolah dasar.
Di hadapan mereka, sebuah tandu ambulans lipat dijadikan alas untuk menata buku tulis, pensil, dan penghapus. Semua dibagikan gratis.
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan atas peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10). Bocah itu disebut mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli alat tulis.
“Aksi Selasa (10/2/2026) kemarin itu bentuk keprihatinan atas peristiwa kemanusiaan yang menimpa adik YBS di NTT,” ujar Kusnan, aktivis 98 sekaligus penggagas aksi, Rabu (11/2/2026).
Menurut Kusnan, tragedi tersebut menjadi tamparan keras bagi semua pihak, terutama para pemangku kebijakan. Ia menilai persoalan akses pendidikan dasar masih belum sepenuhnya merata.
“Kami berharap aksi kecil ini bisa mengetuk hati para pengambil keputusan agar lebih serius memperhatikan kebutuhan dasar siswa,” katanya.
Pria asal Surabaya itu juga mengingatkan agar kejadian serupa tidak terjadi di Jawa Timur, khususnya di Kota Pahlawan.
“Jangan pernah main-main dengan dunia pendidikan jika masalah kemanusiaan serupa terjadi di Jatim dan Surabaya,” tegasnya.
Ia bahkan menyatakan siap melaporkan pejabat terkait, mulai dari gubernur hingga kepala daerah, jika kasus serupa muncul di wilayahnya.
“Ini bukan masalah kecil. Jangan sampai terjadi di Surabaya khususnya dan Jatim pada umumnya,” lanjutnya.
Aksi berbagi alat tulis tersebut merupakan hasil donasi warga Surabaya yang tergerak oleh kabar duka dari NTT. Buku dan perlengkapan sekolah yang dibagikan menjadi simbol solidaritas sekaligus pengingat bahwa pendidikan adalah hak setiap anak.
Kusnan berharap kepedulian masyarakat terus tumbuh, namun di sisi lain pemerintah juga melakukan evaluasi serius agar tragedi serupa tak terulang.
“Kalau warga bisa bergerak, negara seharusnya lebih cepat lagi,” pungkasnya.*(Had)













