KABARKAN.ID I Surabaya – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) mendorong Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Teknik dan Keterampilan Kerja (UPT PTKK) menjadi pusat pelatihan vokasi berbasis industri modern guna memperkuat kompetensi siswa SMK menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai menegaskan pelatihan di UPT PTKK tidak boleh sekadar mengulang materi pembelajaran di sekolah, melainkan harus memberikan pengalaman praktik industri dengan teknologi dan pendekatan yang lebih maju.
Hal itu disampaikan Aries saat meninjau pelatihan teknik bagi siswa SMK se-Jawa Timur di UPT PTKK pada 18–23 Mei 2026. Sebanyak 60 siswa mengikuti pelatihan kompetensi Teknik CNC Milling, CNC Bubut, Teknik Pengelasan, hingga Teknik Sepeda Motor (TSM).
“Yang didapatkan di sekolah bisa dipadukan di tempat PTKK ini. Di sini adalah penguatan praktik secara langsung dengan alat yang mungkin berbeda dengan yang ada di sekolah mereka,” katanya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, masih banyak SMK yang memiliki keterbatasan alat praktik, bahkan sebagian mesin mengalami kerusakan sehingga pembelajaran belum optimal. Karena itu, UPT PTKK diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang mampu menghadirkan pengalaman industri nyata bagi siswa.
“Jangan sampai tempat ini tidak ada bedanya dengan lingkungan sekolah. Harus ada kelebihan dari proses yang mereka alami di UPT PTKK ini,” tegasnya.
Selain fasilitas modern, Aries juga menyoroti pentingnya keterlibatan instruktur industri dalam membentuk kompetensi siswa SMK. Ia menilai metode pengajaran instruktur industri memiliki pendekatan berbeda dibanding pembelajaran di sekolah.
“Cara mengajar dan cara menyampaikan pasti berbeda. Itu juga bisa menjadi evaluasi bagi kita,” ujarnya.
Sementara itu, instruktur Teknik Mesin Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember sekaligus instruktur pelatihan CNC UPT PTKK, Sajidin menjelaskan pelatihan CNC berlangsung selama enam hari dengan materi mulai desain software, simulasi perautan, pengaturan mesin, hingga praktik langsung menggunakan mesin milling dan bubut.
“Materi ini untuk pemahaman dasar. Kalau kebutuhan industri, keilmuan ini akan terus berkembang dan butuh waktu cukup panjang,” jelasnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diminta menyelesaikan studi kasus dan proyek mandiri sebagai simulasi dunia kerja industri.
Salah satu peserta pelatihan, Rendy Septia Ramadhani mengaku mendapatkan pengalaman praktik yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran di sekolah.
“Kalau di sekolah diajarkan dasar-dasarnya. Di sini dijelaskan lebih rinci, fungsi-fungsinya, sampai eksekusinya,” katanya.
Siswa kelas XI Teknik Pemesinan SMKN 1 Kota Madiun itu mengungkapkan keterbatasan mesin praktik di sekolah membuat kesempatan belajar langsung masih minim. Karena itu, pelatihan di UPT PTKK menjadi bekal penting sebelum menjalani magang enam bulan di PT INKA pada bidang quality control.
Rendy menjadi satu dari tiga siswa yang mewakili sekolahnya mengikuti pelatihan CNC melalui klub CNC sekolah.(Had)
