KABARKAN.ID I Gresik – Terhentinya pelayaran menuju Pulau Bawean akibat cuaca buruk selama hampir dua pekan mulai memicu persoalan serius. Selain memicu lonjakan harga bahan pokok, kondisi ini juga mengganggu akses layanan kesehatan masyarakat di pulau terluar Kabupaten Gresik tersebut.
Wakil Ketua DPRD Gresik, Lutfi Dhawan, menilai dampak penghentian pelayaran tidak bisa dipandang sebagai persoalan distribusi logistik semata. Menurutnya, warga Bawean yang membutuhkan penanganan medis lanjutan turut terdampak karena tidak adanya transportasi laut menuju Gresik maupun Surabaya.
“Masalahnya bukan hanya soal sembako. Ada warga yang sakit dan membutuhkan rujukan, tetapi tidak bisa berangkat karena kapal tidak beroperasi. Bahkan ada yang sampai meninggal, dan ada pula yang harus dievakuasi menggunakan pesawat,” ujar Lutfi, Jumat, (16/1/2026).
Politisi Partai Gerindra itu mengungkapkan, terganggunya distribusi logistik otomatis berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar Bawean. Ia berharap pemerintah daerah bersama Forkopimcam dan Forkopimda segera mengambil langkah konkret untuk menekan laju inflasi di wilayah kepulauan tersebut.
“Kalau distribusi terhambat, harga sembako pasti naik. Karena itu, kami mendorong pemerintah dan Forkopimda turun tangan agar lonjakan harga di pasar Bawean bisa dikendalikan,” katanya.
Dampak tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Hasil inspeksi mendadak yang dilakukan Tim Kecamatan Sangkapura di Pasar Desa Kotakusuma menunjukkan sejumlah komoditas mulai langka. Stok sayur-mayur menipis, sementara harga kebutuhan protein hewani mengalami kenaikan cukup tajam.
Harga telur ayam tercatat naik dari Rp32 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Sementara harga daging ayam melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Salah satu warga Bawean, Faiz, berharap kondisi cuaca segera membaik agar pelayaran kembali normal. Terlebih, dalam waktu dekat masyarakat akan memperingati Isra Mi’raj yang biasanya membutuhkan tambahan bahan pangan.
“Semoga cuaca cepat membaik. Menjelang Isra Mi’raj, kebutuhan telur dan ayam biasanya meningkat untuk keperluan acara,” ujarnya.
Hingga kini, masyarakat Bawean masih menunggu kepastian normalnya kembali aktivitas pelayaran. Penundaan pelayaran sendiri telah diberlakukan secara resmi sejak 10 Januari 2026 berdasarkan Pengumuman Nomor AL.820/1/10/UPP.Bwn/2026 yang dikeluarkan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Bawean, menyusul peringatan cuaca buruk dari BMKG.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala UPT Pengelola Prasarana Perhubungan Dinas Perhubungan Wilayah Bawean, Mohammad Taufiqurrahman, menyebut jumlah calon penumpang dari Bawean saat ini tidak terlalu padat karena arus balik Natal dan Tahun Baru telah berakhir. Namun, dampak terhadap distribusi kebutuhan pokok tetap tidak terhindarkan.
“Hingga saat ini belum ada informasi terkait kapal bantuan. Semuanya masih menunggu kebijakan dari Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik untuk mengantisipasi kondisi cuaca buruk,” pungkasnya.*(Kum)

