KABARKAN.ID I Surabaya – Pekan ke-23 BRI Super League 2025-2026 menghadirkan laga sarat gengsi di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026) malam. Atmosfer klasik yang selalu membara, namun kini terasa semakin menekan bagi Persebaya.
Penyebabnya, dua hasil negatif tim berjuluk Bajul Ijo sebelumnya masih membayangi, membuat pertandingan kali ini bukan sekadar soal tiga poin tetapi juga harga diri.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares menegaskan bahwa fokus utamanya bukan sekadar strategi di atas lapangan. Ia kini berpacu dengan waktu untuk memulihkan kondisi fisik para pemainnya.
“Target pertama saya adalah melihat kondisi para pemain, kemudian menganalisa pertandingan melawan Persijap,” ujar Tavares, Selasa (24/2/2026).
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Usai laga tandang, skuad harus menempuh perjalanan darat selama tujuh hingga delapan jam dari Jepara menuju Surabaya. Perjalanan panjang tersebut jelas menguras energi dan emosi, sesuatu yang bisa berdampak langsung pada konsentrasi saat laga krusial.
Situasi makin berat karena PSM datang dengan keuntungan waktu istirahat satu hari lebih lama. Dalam duel berintensitas tinggi, selisih 24 jam bisa menjadi pembeda.
“Mereka memiliki keuntungan istirahat satu hari lebih banyak dari kami. Sekarang kami akan memiliki mungkin tujuh atau delapan jam perjalanan, itu tidak mudah bagi para pemain,” jelas Tavares.
Belum cukup sampai di situ, Persebaya juga dipastikan kehilangan dua pilar penting. Rachmat Irianto absen akibat kartu merah, sementara Toni Firmansyah harus menepi karena akumulasi kartu kuning. Ditambah beberapa pemain yang masih dibekap cedera, komposisi tim belum sepenuhnya ideal.
“Dengan banyaknya pemain cedera serta pemain yang tidak bisa bermain karena kartu merah dan kartu kuning, kami harus membuat rencana yang baik dan melihat pemain yang ada,” ungkap Tavares.
Kini, laga di Gelora Bung Tomo bukan hanya tentang taktik dan teknik. Ini adalah ujian ketahanan fisik, mental, dan kedalaman skuad. Di tengah tekanan dan keterbatasan, Persebaya dituntut membuktikan bahwa mereka masih punya daya juang untuk bangkit.*(Dan)













