KABARKAN.ID I Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus mempercepat penyerapan pupuk subsidi sebagai langkah strategis untuk menjaga sekaligus meningkatkan produksi padi di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih mengancam sektor pertanian pada 2026.
Upaya percepatan distribusi pupuk ini menjadi fokus utama karena pupuk dinilai sebagai salah satu faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, khususnya di wilayah Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menyampaikan bahwa total alokasi pupuk subsidi untuk Jatim pada 2026 mencapai 1.971.817 ton.
Rinciannya meliputi Urea sebanyak 964.037 ton, NPK 885.868 ton, NPK formula khusus 255 ton untuk perkebunan, pupuk organik 11.670 ton, serta ZA sebanyak 10.987 ton.
Hingga saat ini, penyaluran pupuk subsidi tersebut telah berjalan dan mencatat tingkat serapan sekitar 42,5 persen.
“Distribusi terakhir untuk pupuk subsidi sudah 42,5 persen. Pupuk disalurkan ke titik serah untuk kebutuhan per tiga bulan,” ujar Heru, Selasa (9/6/2026).
Penyaluran pupuk subsidi di Jawa Timur dilakukan melalui titik serah resmi, seperti kelompok tani, koperasi, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang telah memenuhi syarat sebagai penyalur.
Heru menambahkan, sejumlah daerah bahkan mulai mengajukan tambahan alokasi pupuk seiring meningkatnya kebutuhan akibat percepatan musim tanam.
Beberapa wilayah yang mengajukan tambahan tersebut antara lain Kabupaten Madiun, Nganjuk, dan Banyuwangi.
Namun, Pemprov Jatim akan melakukan penyesuaian distribusi dengan skema pergeseran kuota dari daerah yang tingkat penyerapannya masih rendah.
“Kalau ada kabupaten yang minta tambahan maka kita akan lihat daerah yang serapannya belum baik, nanti kita geser. Salah satunya Kabupaten Madiun,” jelasnya.
Selain mempercepat penyaluran pupuk subsidi, Pemprov Jatim juga menjalankan berbagai strategi pendukung untuk meningkatkan produksi padi, terutama menghadapi dinamika perubahan cuaca.
Langkah tersebut mencakup optimalisasi fungsi saluran irigasi, pemanfaatan irigasi perpompaan, hingga percepatan musim tanam melalui bantuan benih kepada petani.
Bantuan benih tersebut disalurkan secara bertahap, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, ke sejumlah daerah seperti Lamongan, Blitar, Banyuwangi, dan Nganjuk.
“Bantuan terus diberikan baik dari pusat maupun provinsi supaya petani lebih semangat lagi menanam,” kata Heru.
Menurutnya, percepatan tanam mulai menunjukkan hasil positif. Di sejumlah sentra produksi padi seperti Madiun, Nganjuk, dan Ngawi, petani bahkan mampu melakukan tanam hingga tiga kali dalam setahun, bahkan ada yang mencapai 3,5 kali tanam.
Meski demikian, tantangan di sektor pertanian masih ada, terutama serangan hama di beberapa wilayah. Namun, Heru memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan belum berdampak signifikan terhadap produksi padi di Jawa Timur.
“Hama memang ada, tetapi tidak ada yang ekstrem. Prediksi kami belum akan berpengaruh terhadap produksi,” tegasnya.
Pemprov Jatim juga mewaspadai potensi perubahan cuaca pada Agustus mendatang yang diperkirakan memasuki musim kemarau. Oleh karena itu, percepatan tanam, optimalisasi irigasi, dan percepatan serapan pupuk subsidi terus dioptimalkan agar produksi padi tetap stabil sepanjang tahun.


