KABARKAN.ID I Gresik – Ketika lampu-lampu masjid mulai menyala lebih lama dan lantunan ayat suci terdengar semakin khusyuk di malam Ramadan, ada kerja-kerja sunyi yang turut memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Mengawali Ramadan 1447 Hijriah, PT Petrokimia Gresik menyalurkan bantuan operasional senilai Rp723,5 juta kepada 146 masjid, musala, pondok pesantren, dan panti asuhan di sekitar wilayah operasionalnya, Kamis (19/2/2026). Namun bagi perusahaan, angka bukanlah inti cerita. Yang terpenting adalah memastikan ruang-ruang ibadah tetap hangat, terang, dan hidup selama bulan suci.
Di 17 masjid, 80 musala, 21 pondok pesantren, dan 28 panti asuhan, bantuan itu menjadi nafas tambahan bagi takmir dan pengelola. Ada biaya listrik yang terbantu, konsumsi jamaah yang tercukupi, hingga kegiatan keagamaan yang bisa berjalan tanpa kekhawatiran soal operasional.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyebut Ramadan sebagai momentum untuk menegaskan kembali jati diri perusahaan.
“Kami ingin memastikan jamaah dapat beribadah dengan khusyuk dan nyaman. Kehadiran perusahaan di tengah masyarakat bukan hanya sebagai produsen pupuk untuk ketahanan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang merawat harmoni,” ujarnya.
Sebagai perusahaan milik negara dan bagian dari holding Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik memaknai tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban administratif. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas memang menegaskan kewajiban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Namun di lapangan, implementasi itu diterjemahkan dalam bentuk yang lebih membumi: mendampingi masyarakat dalam momen spiritualnya.
Ramadan pun tidak hanya diisi dengan penyaluran bantuan. Manajemen perusahaan turut menggelar Safari Ramadan, mengikuti buka puasa dan salat tarawih berjamaah secara bergiliran. Di situlah jarak antara korporasi dan masyarakat mencair dalam saf yang sama, di doa yang sama.
Didi, perwakilan Masjid Nurul Huda Karangturi, merasakan langsung dampaknya. “Bantuan ini sangat berarti bagi jamaah. Kami merasakan perusahaan benar-benar hadir dan peduli,” tuturnya.
Di tengah dinamika dunia usaha yang kerap diukur lewat grafik pertumbuhan dan capaian laba, langkah Petrokimia Gresik menjadi pengingat bahwa ada dimensi lain yang tak kalah penting: legitimasi sosial dan kepercayaan publik.
Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya tentang ibadah personal. Ia juga tentang solidaritas, tentang memastikan tak ada ruang ibadah yang redup karena kekurangan dukungan. Dan di Gresik, ada perusahaan yang memilih untuk ikut menjaga cahaya itu tetap menyala.*(Kum)













