KABARKAN.ID I Surabaya – Ujian sesungguhnya menanti Persebaya Surabaya di bulan Ramadan. Dalam rentang dua pekan, tim berjuluk Bajol Ijo itu harus melakoni empat pertandingan Super League dengan jeda hanya tiga hingga lima hari sebuah jadwal pertandingan padat yang menuntut kecermatan dalam menjaga kondisi fisik pemain.
Rangkaian laga dimulai dengan lawatan ke markas Persijap Jepara pada 21 Februari. Setelah itu, Persebaya menjamu PSM Makassar (25/2/2026) dan Persib Bandung (2/3/2026), sebelum menutup periode krusial ini menghadapi Borneo FC Samarinda pada 7 Maret.
Padatnya jadwal semakin menantang karena seluruh pertandingan berlangsung di tengah ibadah puasa. Artinya, pola makan, waktu istirahat, hingga ritme latihan harus diatur ulang agar performa tetap terjaga.
Dokter tim Persebaya, dr. Ahmad Ridhoi, memastikan tim medis telah menyiapkan skema khusus jauh hari sebelumnya. Fokus utama adalah manajemen energi pemain selama Ramadan.
“Yang paling penting adalah manajemen energi. Saat Ramadan, pemain tetap berlatih dan bertanding dengan intensitas tinggi. Karena itu, kami atur pola makan saat sahur dan berbuka supaya kebutuhan kalori dan cairan tetap terpenuhi,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, pemantauan kondisi pemain dilakukan setiap hari. Berat badan, kadar hidrasi, hingga kualitas tidur menjadi indikator utama untuk memastikan tak ada penurunan performa yang signifikan.
“Kami melakukan pengecekan rutin. Kalau ada tanda-tanda kelelahan berlebih, langsung kami komunikasikan dengan tim pelatih untuk penyesuaian program,” tambah Ridhoi.
Ia menegaskan, periode 24–48 jam pertama setelah pertandingan menjadi fase krusial. Pada rentang waktu itulah tim medis memaksimalkan proses pemulihan agar pemain siap kembali bertanding dalam waktu singkat.
Empat laga dalam dua pekan jelas bukan tugas ringan. Namun dengan perencanaan matang, disiplin pemain, serta koordinasi erat antara tim pelatih dan medis, Persebaya optimistis mampu melewati fase Ramadan ini dengan hasil maksimal.*(Dan)













