KABARKAN.ID I Surabaya – Anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama Badan Gizi Nasional (BGN) menyusun tiga strategi untuk meningkatkan penyerapan produksi telur dan mengurangi kerugian yang dialami ribuan peternak.

Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Dinas Peternakan Jawa Timur, Surabaya, Jumat (5/6/2026). Pertemuan itu dihadiri puluhan peternak ayam petelur dari sejumlah daerah sentra produksi telur di Jawa Timur, seperti Blitar, Magetan, Jombang, Ponorogo, dan Bojonegoro.

Rapat dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang menegaskan bahwa pemerintah akan memperkuat serapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menu Telur MBG Minimal Tiga Kali Seminggu

Salah satu langkah yang disepakati adalah menjadikan telur sebagai menu minimal tiga kali dalam sepekan pada Program Makan Bergizi Gratis. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penyerapan surplus produksi telur yang saat ini membebani peternak.

Menurut Emil, Badan Gizi Nasional telah menyetujui skema tersebut sebagai upaya membuka pasar baru bagi hasil produksi peternak telur di Jawa Timur.

“Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan serapan telur sekaligus membantu menstabilkan harga di tingkat peternak,” ujarnya.

Koperasi Peternak Siap Pasok Telur ke SPPG

Kesepakatan kedua adalah kesiapan asosiasi dan koperasi peternak ayam petelur rakyat di Jawa Timur untuk memasok telur langsung ke Dapur Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Selain menjamin ketersediaan pasokan, peternak juga berkomitmen mengirimkan telur sesuai standar kualitas yang telah ditentukan. Skema ini diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan keuntungan peternak.

Harga Telur Peternak Ditargetkan Minimal Rp24.000 per Kilogram

Strategi ketiga yang disepakati adalah transaksi pembelian telur dilakukan langsung melalui asosiasi atau koperasi peternak dengan harga minimal Rp24.000 per kilogram. Harga tersebut akan disesuaikan secara bertahap mengikuti Harga Acuan Pemerintah (HAP).

Emil menjelaskan, kebijakan penetapan harga minimal tersebut merupakan arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai bentuk perlindungan terhadap peternak yang saat ini menghadapi tekanan harga.

Saat ini harga telur ayam ras di tingkat peternak hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp20.500 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah harga yang dinilai layak bagi peternak.

Di sisi lain, harga telur di tingkat konsumen mencapai Rp27.500 hingga Rp30.000 per kilogram. Sementara itu, telur yang dibeli untuk kebutuhan SPPG masih berasal dari pemasok dengan harga sekitar Rp25.000 per kilogram.

“Kami mendorong agar pembelian telur untuk kebutuhan SPPG dapat dilakukan langsung dari peternak atau koperasi peternak,” kata Emil.

BGN Proyeksikan Serapan Telur Naik hingga 10 Persen

Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN, Tengku Syahdana, mengatakan penambahan frekuensi menu telur dalam Program MBG berpotensi menciptakan pasar baru yang signifikan bagi peternak.

Menurutnya, kebijakan tersebut diperkirakan mampu membuka tambahan serapan telur sebesar 8 hingga 10 persen dari total produksi di Jawa Timur.

“Intervensi ini akan menciptakan pasar baru yang cukup besar untuk membantu menyerap produksi telur peternak,” ujarnya.

Selain itu, BGN juga akan berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Timur untuk memperluas distribusi telur ke daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan pasokan.

Beberapa wilayah yang menjadi opsi tujuan distribusi antara lain Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sejumlah daerah lain di Indonesia yang membutuhkan tambahan suplai telur.

Peternak Blitar Minta Pasar Baru untuk Serap Produksi Telur

Harapan terhadap perluasan pasar juga disampaikan peternak ayam petelur asal Blitar, Suyanto. Menurutnya, sebagai salah satu sentra produksi telur nasional, Blitar saat ini mengalami surplus produksi yang cukup besar.

Namun, kapasitas penyerapan pasar yang ada dinilai belum mampu mengimbangi tingginya produksi telur dari peternak setempat.

“Di Blitar saat ini hanya ada 117 SPPG, sementara produksi telur kami sangat melimpah. Kami membutuhkan pasar baru agar hasil produksi peternak bisa terserap,” katanya.

Dengan tiga langkah yang telah disepakati tersebut, Pemprov Jawa Timur dan BGN berharap harga telur ayam ras dapat kembali stabil, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha ribuan peternak yang menjadi tulang punggung pasokan telur nasional. (Ayu)

Share.
Exit mobile version