KABARKAN.ID I Sidoarjo – Hujan deras tak menghalangi ratusan warga untuk menghadiri buka puasa bersama lintas agama yang digelar di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidoarjo. Acara ini menghadirkan tokoh nasional, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, yang menekankan pentingnya merawat kebhinekaan dan solidaritas kemanusiaan di tengah tantangan sosial dan bencana.
Mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, kegiatan ini diikuti tidak hanya oleh tokoh masyarakat, tetapi juga komunitas ojek online, anak jalanan, dan kaum marginal. Shinta Nuriyah menekankan bahwa keberagaman suku dan budaya Indonesia seharusnya menjadi perekat persatuan, bukan sumber perpecahan.
“Di Indonesia ini ada beraneka ragam suku dan budaya. Kita diwajibkan saling hormat-menghormati. Semua perbedaan itu justru memperkuat persatuan bangsa,” ujar, Sabtu (28/2/2026.
Selain membahas kebhinekaan, Shinta juga menekankan pentingnya memberi ruang bagi semua warga untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik tanpa memecah belah bangsa. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan hawa nafsu, membangun empati, dan solidaritas sosial.
Tradisi sahur dan buka puasa bersama kaum marginal telah ia lakukan sejak mendampingi Gus Dur lebih dari dua dekade lalu, dari terminal, kolong jembatan, hingga pasar tradisional.
“Tujuannya membangun solidaritas kemanusiaan dan memaknai puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi menahan hawa nafsu,” jelasnya.
Koordinator Gusdurian Sidoarjo, Febrian Aryani, menambahkan bahwa acara serupa rutin digelar setiap tahun di berbagai daerah Jawa Timur, namun tidak semua wilayah mendapat kesempatan menjadi tuan rumah.
Tahun ini, Sidoarjo dipercaya menjadi lokasi acara dengan antusiasme luar biasa, bahkan melebihi kapasitas gedung yang mencapai 800 orang.
“Dengan hadirnya Shinta Nuriyah, kegiatan buka puasa lintas agama ini diharapkan tidak hanya memperkuat kerukunan antarumat beragama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk tetap bersatu menghadapi tantangan sosial dan bencana yang kerap melanda Indonesia,” katanya.*(Kum)













